Dampak COVID-19 Pada Pendidikan Khusus atau ABK
LAYANAN PENDIDIKAN BAGI PENDIDIKAN KHUSUS ATAU ABK SELAMA PENYEBARAN COVID-19
Oleh Aulia Rizkia Danial
19010044062
Abstrak
Novel Coronavirus (CoV) merupakan Coronavirus jenis baru. Penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Cina dan dinamai penyakit coronavirus 2019 (COVID-19). Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius. Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. Orang dapat tertular COVID-19 dari orang lain yang terjangkit virus ini. COVID-19 dapat menyebar dari orang ke orang melalui percikan-percikan dari hidung atau mulut yang keluar saat orang yang terjangkit COVID-19 batuk atau mengeluarkan napas. Percikan-percikan ini kemudian jatuh ke benda-benda dan permukaan-permukaan di sekitar. Orang yang menyentuh benda atau permukaan tersebut lalu menyentuh mata, hidung atau mulutnya, dapat terjangkit COVID-19. Untuk menangani penyebaran COVID-19 pemerintah telah menerapkan kebijakan Study from home, yang merupakan bentuk dari Social distancing. Penerapan Study from home dalam masa COVID-19 ini memberikan dampak yang begitu besar bagi pendidikan khusus, maupun ABK dalam memperoleh layanan pendidikan. Karena dalam penerapan layanan pendidikan bagi ABK dibutuhkan penyesuaian dengan kebutuhan yang diperlukan bagi masing-masing peserta didik tersebut.
Kata kunci: COVID-19, Pendidikan khusus, ABK
Pendahuluan
Pendidikan adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan positif dalam hidupnya. Sehingga pemberian layanan pendidikan di Indonesia haruslah adil dan merata, agar setiap peserta didik dapat memperoleh ilmu dengan baik. Untuk mendapatkan haknya tersebut, pemerintah perlu menerapkan pendidikan yang sesuai dengan program.
Namun akhir-akhir ini kenyamanan dalam memperoleh pendidikan harus sedikit terganggu dengan adanya COVID-19. Tidak dapat dihindari lagi bahwa semua jenjang pendidikan mendapat dampak yang begitu serius. Dengan berat hati pemerintah harus meliburkan seluruh kegiatan pendidikan, dan mengubahnya dalam bentuk pembelajaran daring. Utamanya bagi pendidikan khusus maupun ABK yang memiliki layanan pendidikan tersendiri, pembelajaran daring memberikan dampak yang besar bagi mereka. Jangkauan pembelajaran yang begitu meluas membuat anak akan sulit fokus pada media Hp/Laptop. Guru pun merasa kesulitan dalam memberikan perhatian khusus pada anak karena terbatasnya media yang ada. Belum lagi perlunya perhatian penuh orang tua dalam menjamin kualitas belajar ABK ketika menjalani study from home.
Pembahasan
a. COVID-19
COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru dan penyakit yang sebelumnya tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. Menurut penelitian sejauh ini, virus penyebab COVID-19 ini umumnya menular melalui kontak dengan percikan dari saluran pernapasan, bukan melalui udara. Cara utama penyebaran penyakit ini adalah melalui percikan saluran pernapasan yang dihasilkan saat batuk. Risiko penularan COVID-19 dari orang yang tidak ada gejala sama sekali sangatlah rendah. Namun, banyak orang yang terjangkit COVID-19 hanya mengalami gejala-gejala ringan, terutama pada tahap-tahap awal. Karena itu, COVID-19 dapat menular dari orang yang, misalnya, hanya batuk ringan tetapi merasa sehat. WHO terus mengkaji perkembangan penelitian tentang cara penyebaran COVID-19 dan akan menyampaikan temuan-temuan terbaru.
Kita dapat mengurangi risiko terinfeksi atau menyebarkan COVID-19 dengan cara melakukan beberapa langkah pencegahan seperti:
1. Seringlah mencuci tangan dengan air bersih mengalir dan sabun, atau cairan antiseptik berbahan dasar alkohol. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun, atau cairan antiseptik berbahan dasar alkohol dapat membunuh virus di tangan kita.
2. Jaga jarak setidaknya 1 meter dengan orang yang batuk-batuk atau bersin-bersin. Karena ketika batuk atau bersin, orang mengeluarkan percikan dari hidung atau mulutnya dan percikan ini dapat membawa virus. Jika terlalu dekat, kita dapat menghirup percikan ini dan juga virus COVID-19 jika orang yang batuk itu terjangkit penyakit.
3. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut. Karena tangan menyentuh berbagai permukaan benda dan virus penyakit ini dapat tertempel di tangan. Tangan yang terkontaminasi dapat membawa virus ini ke mata, hidung atau mulut, yang dapat menjadi titik masuk virus ini ke tubuh sehingga menjadi sakit.
4. Pastikan kita dan orang-orang di sekitar mengikuti etika batuk dan bersin dengan cara menutup mulut dan hidung dengan siku terlipat atau tisu saat batuk atau bersin dan segera buang tisu bekas tersebut.
5. Tetaplah tinggal di rumah jika merasa kurang sehat. Jika merasa demam, batuk dan kesulitan bernapas, segeralah cari pertolongan medis dan tetap memberitahukan kondisi kita terlebih dahulu. Ikuti arahan Dinas Kesehatan setempat untuk mencegah penyebaran COVID-19.
6. Tetap ikuti informasi terbaru tentang hotspot-hotspot COVID-19 (kota atau daerah di mana COVID-19 menyebar luas). Jika memungkinkan, hindari bepergian ke tempat-tempat tersebut – terutama jika sudah berusia lanjut atau mengidap diabetes, sakit jantung atau paru-paru karena kemungkinan tertular COVID-19 lebih tinggi di tempat-tempat tersebut.
b. Pendidikan Khusus
Pendidikan Khusus merupakan Suatu sistem layanan pendidikan yang diperuntukkan bagi anak atau individu yang memerlukan layanan pendidikan khusus. Individu yang memerlukan layanan pendidikan khusus adalah mereka yang secara signifikan berada di luar rerata normal, baik dari segi fisik, inderawi, mental, sosial, dan, emosi sehingga memerlukan pelayanan khusus, agar dapat tumbuh dan berkembang secara sosial, ekonomi, budaya, dan religi bersama-sama dengan masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu pemerintah wajib memberikan layanan pendidikan yang bermutu kepada para peserta didik termasuk mereka yang berkebutuhan khusus.
c. Layanan Pendidikan Bagi Pendidikan Khusus Atau ABK Selama Penyebaran COVID-19
Rumitnya penanganan COVID-19 ini membuat pemerintah menerapkan suatu kebijakan yang sangat ketat. Kebijakan ini ditetapkan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Social distancing menjadi pilihan yang sulit bagi negara Indonesia dalam menerapkan kebijakan untuk pencegahan penyebaran COVID-19, karena kebijakan ini berdampak negatif terhadap segala aspek utamanya pada bidang pendidikan.
Social distancing atau pembatasan interaksi sosial dapat menghambat laju pertumbuhan dan kemajuan dalam bidang pendidikan, namun tidak ada pilihan lain, karena cara ini adalah yang paling efektif. Keputusan pemerintah yang mendadak dengan meliburkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah/madrasah menjadi di rumah, membuat kelimpungan banyak pihak.
Study from home yang merupakan salah satu kebijakan dalam penerapan social distancing ikut berdampak pada pelaksanaan pendidikan bagi pendidikan khusus maupun ABK. Perlu adanya akomodir konten maupun tayangan untuk Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK), hal ini juga penting karena sejatinya pendidikan harus bisa diakses untuk semua kalangan dan semua kondisi peserta didik. Jangan sampai kebijakan study from home yang mengharuskan segenap peserta didik untuk belajar di rumah ini membuat anak berkebutuhan khusus merasa ditinggalkan karena tidak adanya akses maupun tayangan konten pendidikan untuk mereka.
Sistem pembelajaran jarak jauh memang tidak seefektif sistem tatap muka. Apalagi di tengah kondisi darurat seperti saat ini. Banyak hal yang perlu disiapkan dengan baik agar proses pembelajaran bisa berjalan dengan optimal. Misalnya, infrastruktur seperti jaringan internet yang memadai. Untuk masalah ini dukungan pemerintah sangat dibutuhkan.
Dalam sistem pembelajaran daring ini tidak cukup dengan hanya menyiapkan infrastruktur berupa jaringan dan platform aplikasi. Ada tuntutan yang justru lebih sulit dari itu, yaitu kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan para pelajar. Kesiapan SDM dan pelajar ini mutlak diperlukan. Sebab tidak ada gunanya infrastruktur dan fasilitas baik jika para pengguna seperti SDM seperti guru dan pelajar tidak siap menjalankannya.
Untuk menyiapkan SDM dan pelajar, dalam hal ini perlu dilakukan sosialisasi secara masif dan terstruktur. Hal ini bisa dilakukan dengan penyediaan dan penyebaran media-media seperti video tentang manual book atau petunjuk penggunaan teknologi yang tersedia dan dibutuhkan.
Sedangkan siswa ABK yang memiliki sistem serta layanan pendidikan sendiri akan merasa kurang efektif melakukan pembelajaran secara daring. Hal ini dikarenakan esensi pembelajaran jarak jauh adalah independensi. Membangun sikap disiplin di tengah kondisi darurat Coronavirus disease seperti saat ini tidaklah mudah. Butuh kerja sama semua pihak. Dalam hal ini pemerintah harus bertanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada semua bagaian pendidik dan para orangtua untuk bekerja sama agar terus bersikap disiplin dan lebih independen dalam belajar.
Dampak yang paling dirasakan utamanya ialah keefektifan materi pembelajaran yang diterima oleh peserta didik ABK. Kemungkinan besar mereka masih sulit dalam memahami materi yang diberikan melalui media daring. Guru pendidikan khusus pun bingung mengenai cara dalam mengembangkan media daring menjadi media yang mudah dan efisien bagi ABK. Sehingga perubahan ini akan sangat dirasakan oleh semua pihak, baik ABK, guru pendidikan khusus, dan juga orang tua.
Di sisi lain, kerja sama para orangtua di rumah sangat dibutuhkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang seorang anak mempunyai kecenderungan untuk "berleha-leha" di rumah. Memang ini menjadi tantangan bagi para orangtua. Sebab, tidak semua orangtua mampu secara efektif dalam melakukan pendampingan dan pendisiplinan ABK tanpa bantuan guru khusus maupun shadow teachernya.
Kesimpulan
Penyebaran COVID-19 memberikan dampak yang besar bagi keberlangsungan pembelajaran bagi pendidikan khusus ataupun ABK. Karena penerapan study from home membutuhkan persiapan yang harus sangat matang, dan memperhatikan aspek lain seperti adanya jaringan internet, sarana prasarana, serta teknologi yang memedai. Berikut beberapa dampak dari COVID-19 yang dirasakan oleh Pendidikan khusus maupun ABK:
1. Peserta didik ABK perlu memahami secara lebih mendalam mengenai materi pelajaran yang diberikan oleh guru secara mandiri.
2. Beberapa guru tidak memberikan materi dalam pembelajaran daring, dan hanya memberikan tugas kepada peserta didik ABK, sehingga mereka tidak memahami muatan materinya.
2. Beberapa guru tidak memberikan materi dalam pembelajaran daring, dan hanya memberikan tugas kepada peserta didik ABK, sehingga mereka tidak memahami muatan materinya.
3. Aksesibilitas yang kurang memadai, utamanya pada peserta didik ABK tunarungu dan tunanetra.
4. Beberapa siswa tidak mandiri dalam mengerjakan tugas, sehingga mengandalkan orangtuanya dalam proses pengerjaan tugas.
5. Terbatasnya informasi yang diberikan guru pendidikan khusus karena batasan media, dan juga jaringan yang ada.
6. Guru pendidikan khusus sulit dalam menjelaskan kepada anak, karena fokus peserta didik ABK akan merasa terbelah akibat kendala pada media daring.
Daftar Pustaka
Chamidah, A. N. (2010). Pendidikan inklusif untuk anak dengan kebutuhan kesehatan khusus. JPK (Jurnal Pendidikan Khusus), 7(2).
Rajab, Muhammad. 2020. Evaluasi dan Optimalisasi Pembelajaran Daring. Tersedia di: https://m.detik.com/news/kolom/d-4960905/evaluasi-dan-optimalisasi-pembelajaran-daring. Akses: 16 April 2020.
Tarmidi, Muhchamad Haris. 2020. Belajar dari Rumah lewat TVRI: Jadi Tuntunan dan Tontonan. Tersedia di: https://edukasi.kompas.com/read/2020/04/12/175902671/belajar-dari-rumah-lewat-tvri-jadi-tuntunan-dan-tontonan?page=2. Akses: 15 April 2020.
Praptiningrum, N. (2010). Fenomena penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. JPK (Jurnal Pendidikan Khusus), 7(2).
Unicef. 2020. Coronavirus disease (COVID-19): What parents should know. Tersedia di: https://www.unicef.org/stories/novel-coronavirus-outbreak-what-parents-should-know. Akses: 15 April 2020.
Rajab, Muhammad. 2020. Evaluasi dan Optimalisasi Pembelajaran Daring. Tersedia di: https://m.detik.com/news/kolom/d-4960905/evaluasi-dan-optimalisasi-pembelajaran-daring. Akses: 16 April 2020.
Tarmidi, Muhchamad Haris. 2020. Belajar dari Rumah lewat TVRI: Jadi Tuntunan dan Tontonan. Tersedia di: https://edukasi.kompas.com/read/2020/04/12/175902671/belajar-dari-rumah-lewat-tvri-jadi-tuntunan-dan-tontonan?page=2. Akses: 15 April 2020.
Praptiningrum, N. (2010). Fenomena penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. JPK (Jurnal Pendidikan Khusus), 7(2).
Unicef. 2020. Coronavirus disease (COVID-19): What parents should know. Tersedia di: https://www.unicef.org/stories/novel-coronavirus-outbreak-what-parents-should-know. Akses: 15 April 2020.

Komentar
Posting Komentar